Menelusuri Sejarah Kepulauan Seribu, Enam Penulis Naskah Terpilih Ngabubuwrite Siap Menyusun Buku Antologi Kepulauan Seribu
Oleh : Fadillah Wiyoto - Komunitas RuangMenulis.ID
ASKARA - Enam penulis naskah terpilih dari program Ngabubuwrite memperoleh kesempatan melakukan 'one day trip' ke Museum Arkeologi Pulau Onrust di Kepulauan Seribu yang mencakup Pulau Bidadari, Cipir, Kelor dan Onrust pada Jumat (19/4/2024). Perjalanan tersebut difasilitasi oleh Museum Kebaharian Jakarta.
Ngabubuwirte yang dilaksanakan dalam suasana Ramadhan pada Jumat (22/3/2024) di Museum Kebaharian Jakarta merupakan program literasi yang diselenggarakan melalui kolaborasi RuangMenulis.ID dengan Museum Kebaharian Jakarta. Dari 37 naskah artikel yang terkumpul dengan tema 'Melukis Senja di Museum Bahari,' terdapat 6 naskah terpilih yang penulisnya akan menjadi bagian dari penyusunan buku Antologi Kepulauan Seribu.
Peserta yang terdiri dari siswa, mahasiswa, dan guru berkumpul di Menara Syahbandar yang merupakan titik nol Jakarta untuk kemudian memulai perjalanan laut dengan perahu dari Muara Kamal, Penjaringan, Jakarta Utara, yang lokasinya berdekatan dengan sentra pengasinan dan pelelangan ikan.
Pulau pertama yang dituju adalah Pulau Kelor yang ikonik dengan Benteng Martello. Sebagai benteng peninggalan Belanda yang paling utuh di Kepulauan Seribu, bentuk silinder benteng dengan dominasi warna merah bata masih menyisakan keindahan dan kekokohan. Kini, rupa benteng semakin cantik dengan kehadiran pantai berpasir putih yang baru direklamasi.
Kunjungan peserta ke Pulau Kelor menjadi momen istimewa karena status pulau yang masih ditutup dari aktivitas wisata karena proses pembangunan untuk mengembalikan pulau ke luasnya semula yang mencapai empat hektar. Revitalisasi tersebut diupayakan untuk menyelamatkan Benteng Martello dari ancaman abrasi yang seiring waktu telah mengikis daratan pulau secara signifikan.
Selepas dari Pulau Kelor, perahu kemudian berlayar ke Pulau Bidadari yang sebagian merupakan area dari Museum Arkeologi Onrust dengan puing benteng yang juga dinamai sebagai Benteng Martello. Benteng tersebut masih menyisakan lorong dan ruangan gudang mesiu.
Sebagian pulau Bidadari telah dikembangkan sebagai resor wisata.Tutupan hutan di pulau berpasir putih tersebut turut menjadi habitat bagi spesies liar yang dijumpai oleh peserta seperti biawak, kelelawar, dan elang bondol yang merupakan fauna identitas Provinsi Jakarta.
Pulau Onrust menjadi pulau ketiga yang disinggahi oleh peserta. Meskipun tidak lagi memiliki bangunan peninggalan sebesar Benteng Martello di Pulau Bidadari dan Kelor, pulau ini memiliki segudang kisah yang membuatnya tidak kalah menarik dari dua pulau sebelumnya.
Dahulu pulau tersebut merupakan pangkalan Angkatan Laut Belanda serta lokasi galangan kapal penting yang membuatnya disinggahi oleh penjelajah Inggris terkemuka James Cook. Pulau Onrust juga menjadi pusat embarkasi dan kepulangan jamaah Haji dari Pulau Jawa & Bali yang pada masanya dapat menampung hingga 3500 orang.
Aktivitas dari masa lalu tersebut meninggalkan puing barak, penjara, rumah sakit, toilet, hingga makam Belanda yang masih dapat disaksikan oleh peserta.
Beberapa bangunan seperti rumah dokter telah direvitalisasi dan difungsikan sebagai museum untuk menaungi penemuan arkeologis di pulau.
Pulau Onrust juga menjadi tempat peserta menikmati makan siang serta suguhan air kelapa untuk mengisi kembali energi setelah seharian beraktivitas.
Perjalanan kemudian ditutup di Pulau Cipir, pulau di dekat Onrust yang dahulu turut dijadikan sebagai lokasi karantina jamaah Haji.
Dengan pendampingan oleh pemandu wisata dari Museum Kebaharian Jakarta, peserta dibekali dengan berbagai informasi yang akan menjadi materi dalam penulisan buku Antologi Kepulauan Seribu bersama RuangMenulis.ID. Buku tersebut akan dirilis untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kota Jakarta ke-496 yang jatuh pada 22 Juni 2024.

Komentar